<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://anaklangit.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://anaklangit.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 May 2012 04:17:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Harus Lebih Banyak Bermain di Prasekolah</title>
		<link>http://anaklangit.com/2012/05/17/harus-lebih-banyak-bermain-di-prasekolah/</link>
		<comments>http://anaklangit.com/2012/05/17/harus-lebih-banyak-bermain-di-prasekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 04:14:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wasmin al risyad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak usia dini]]></category>
		<category><![CDATA[Bermain]]></category>
		<category><![CDATA[prasekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anaklangit.com/?p=200</guid>
		<description><![CDATA[Meski banyak kalangan meyakini pentingnya pendidikan prasekolah sebagai sebuah jembatan persiapan bagi anak untuk mengikuti pendidikan sekolah dasar (SD), di Indonesia, sejauh ini pendidikan prasekolah bukan merupakan syarat bagi seorang anak untuk  masuk SD. Oleh karena itu, orangtua ke dalam hal ini, tidak memiliki kewajiban untuk memasukkan anaknya ke lembaga pendidikan prasekolah lebih dulusebelum sang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Meski banyak kalangan meyakini pentingnya pendidikan prasekolah sebagai sebuah jembatan persiapan bagi anak untuk mengikuti pendidikan sekolah dasar (SD), di Indonesia, sejauh ini pendidikan prasekolah bukan merupakan syarat bagi seorang anak untuk  masuk SD. <a href="http://anaklangit.com/wp-content/uploads/2012/05/bermain1.jpg"><img class="alignright  wp-image-206" title="bermain" src="http://anaklangit.com/wp-content/uploads/2012/05/bermain1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Oleh karena itu, orangtua ke dalam hal ini, tidak memiliki kewajiban untuk memasukkan anaknya ke lembaga pendidikan prasekolah lebih dulusebelum sang anak duduk di bangku sekolah dasar.</p>
<p>Titik tekan pendidikan di jenjang prasekolah sendiri idealnya harus lebih banyak bermain. Dengan memberi kesempatan lebih banyak bermain kepada anak diharapkan bisa membantu menggali potensi dan kecerdasan yang dimiliki sang anak.</p>
<p>Sayangnya, sementara pengamat pendidikan menilai praktik pendidikan prasekolah dewasa ini cenderung lebih menekankan pada aspek akademik.</p>
<p>Aspek penanaman nilai yang seharusnya menjadi porsi utama kurang mendapat penekanan. Anak terbiasa dijejali dengan hapalan, hitung-menghitung dan kegiatan lain yang memaksa kerja keras otak belahan kiri.  Tanpa disadari pola pendidikan sepetti itu menanamkan kepada anak untuk menjadi yang terbaik di sekolahnya tanpa memperdulikan bagaimana caranya untuk mendapatkan yang terbaik tersebut. Dampak dari pola ini adalah menciptakan anak yang memiliki kepekaan sosial rendah atau EQ-nya menjadi lemah.</p>
<p>Semestinya pada usia di bawah lima tahun, bahkan sampai usia delapan tahun, tingkat tekannya adalah pada aspek yang banyak memberikan keteladanan, motivasi atau menumbuhkan minat serta penanaman nilai yang akan memberi dasar terhadap perkembangan selanjutnya sehingga pada usia delapan tahun ke atas anak sudah memiliki dorongan untuk menuntut ilmu serta terbiasa dengan hidup yang berkualitas yang tercermin dari perilaku sehari-hari.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anaklangit.com/2012/05/17/harus-lebih-banyak-bermain-di-prasekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tujuan Pendidikan Prasekolah</title>
		<link>http://anaklangit.com/2012/05/17/tujuan-pendidikan-prasekolah/</link>
		<comments>http://anaklangit.com/2012/05/17/tujuan-pendidikan-prasekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 03:34:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wasmin al risyad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak usia dini]]></category>
		<category><![CDATA[prasekolah]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan pendidikan prasekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anaklangit.com/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[Secara umum pendidikan pra sekolah diarahkan untuk memberikan rangsangan pendidikan guna membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Ada dua tujuan diselenggarakannya pendidikan pra sekolah. Pertama, untuk membentuk anak yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://anaklangit.com/wp-content/uploads/2012/05/timthumb.php_.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-195" title="timthumb.php" src="http://anaklangit.com/wp-content/uploads/2012/05/timthumb.php_-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p>Secara umum pendidikan pra sekolah diarahkan untuk memberikan rangsangan pendidikan guna membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.</p>
<p>Ada dua tujuan diselenggarakannya pendidikan pra sekolah.</p>
<p><strong>Pertama</strong>, untuk membentuk anak yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang</p>
<p>sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam</p>
<p>memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, membatu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.</p>
<p>Berdasarkan Pasal 1 PP No.27 Tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah sendiri</p>
<p>disebutkan bahwa pendidikan prasekolah adalah pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani maupun rohani anak didik di liar lingkungan keluarga, sebelum memasuki pendidikan dasar yang diselenggarakan di jalur pendidikan luar sekolah.</p>
<p>Pendidikan luar sekolah ini mempunyai dua bentuk jalur, yaitu jalur formal dan nonformal.Jalur formal adalah Taman Kanak-kanak sedangkan jalur nonformal berupa temat pengasuhan anak (daycare) dan kelompok bermain (playgroup).</p>
<p><strong>Hanya 13 persen yang tertampung</strong></p>
<p><strong></strong>Berdasarkan catatan statistik, sebagaimana dikutip dari koran Suara Merdeka, koran dengan oplah terbesar  di Semarang, terdapat sekitar 12,5 juta anak usia prasekolah Indonesia sekarang ini. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 13,13% saja yang bisa tertampung di 40.880 lembaga prasekolah negeri  maupun swasta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anaklangit.com/2012/05/17/tujuan-pendidikan-prasekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HGS (Hypnotic Goal Setting)</title>
		<link>http://anaklangit.com/2012/05/16/hgs-hypnotic-goal-setting/</link>
		<comments>http://anaklangit.com/2012/05/16/hgs-hypnotic-goal-setting/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 07:17:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wasmin al risyad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[al risyad]]></category>
		<category><![CDATA[anti virus]]></category>
		<category><![CDATA[dejavu]]></category>
		<category><![CDATA[goal setting]]></category>
		<category><![CDATA[hypnotic]]></category>
		<category><![CDATA[robbani]]></category>
		<category><![CDATA[wasmin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anaklangit.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu penyebab utama orang yang gagal mencapai tujuannya, karena tidak punya peta tempat yang dituju, walau tahu tempat yang akan dituju (Krishnamurti words) Workshop atau pelatihan “HYPNOTIC GOAL SETTING”, yang mengajak peserta bertransformasi dengan dirinya sendiri, dalam menyusun tahapan pembuatan sebuah impian, sebuah Outcome, sebuah Cita-cita, sebuah Goal atau lebih. Agar setelah pelatihan, peserta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu penyebab utama orang yang gagal mencapai tujuannya, karena tidak punya peta tempat yang dituju, walau tahu tempat yang akan dituju (Krishnamurti words)</p>
<p>Workshop atau pelatihan “<strong>HYPNOTIC GOAL SETTING</strong>”, yang mengajak peserta bertransformasi dengan dirinya sendiri, dalam menyusun tahapan pembuatan sebuah impian, sebuah Outcome, sebuah Cita-cita, sebuah Goal atau lebih. Agar setelah pelatihan, peserta dapat terus melangkah dan berjalan mewujudkan impiannya karena peta jalan menuju sukses (<em>Road Map to Succsess)</em> sudah dibuat sejak awal dengan menggunakaka kepekaan intusi peserta ke masa depan.</p>
<p>Ikuti Pelatihan<strong> HYPNOTIC GOAL SETTING</strong> bersama Wasmin Al Risyad,  S.Pd, CHt (Senior hypnoterapist).</p>
<p>Setelah Pelatihan dapatkan:</p>
<p>1. Manipulasi kemalasan</p>
<p>2. Anti Virus kegagalan</p>
<p>3. Core Belief baru</p>
<p>4. Ciptakan dejavu efek.<br />
<strong>Sabtu 26 Mei 2012 pkl 13.00 sd 17.00.</strong> Bertempat di  <strong>Gd Robbani Lt. 4 Jl. Dipatiukur no 44 Bandung</strong>. Investasi 450 rb.</p>
<p>Pendaftaran ditutup saat quota terpenuhi. Dapatkan <strong>harga spesial utk 50 pendaftar pertama hanya Rp.250rb.</strong></p>
<p>Informasi lebih lanjut silakan hubungi 081394555999</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anaklangit.com/2012/05/16/hgs-hypnotic-goal-setting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tujuan Bersekolah</title>
		<link>http://anaklangit.com/2012/05/11/tujuan-bersekolah/</link>
		<comments>http://anaklangit.com/2012/05/11/tujuan-bersekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 04:41:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wasmin al risyad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[anak usia dini]]></category>
		<category><![CDATA[aspek afektif]]></category>
		<category><![CDATA[aspek kognitif]]></category>
		<category><![CDATA[psikomotor]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan bersekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anaklangit.com/?p=166</guid>
		<description><![CDATA[Tatkala orangtua mengirim anaknya ke sebuah lembaga pendidikan, umumnya hanya ada satu tujuan yang terpatri di benaknya yaitu agar sang anak menjadi pinter. Itulah gunanya mereka mengirim anak ke sekolah. Pintar disini kerap dipahami sebagai kondisi dimana anak mampu mnguasai apa-apa yang diajarkan oleh lembaga pendidikan tempat ia bersekolah. Soal apakah yang diajarkan oleh lembaga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://anaklangit.com/wp-content/uploads/2012/05/siap-sekolah.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-167" title="siap sekolah" src="http://anaklangit.com/wp-content/uploads/2012/05/siap-sekolah.jpg" alt="" width="194" height="191" /></a>Tatkala orangtua mengirim anaknya ke sebuah lembaga pendidikan, umumnya hanya ada satu tujuan yang terpatri di benaknya yaitu agar sang anak menjadi <em>pinter.</em> Itulah gunanya mereka mengirim anak ke sekolah. Pintar disini kerap dipahami sebagai kondisi dimana anak mampu mnguasai apa-apa yang diajarkan oleh lembaga pendidikan tempat ia bersekolah. Soal apakah yang diajarkan oleh lembaga pendidikan itu memang sesuai dengan kebutuhan dan tingkat perkembangan anak, kerap menjadi soal yang tidak terlalu penting.</p>
<p>Menurut Bloom et al, sebagaimana dikutip oleh Redja Mudyahardjo, secara mendasar, terdapat paling tidak tiga macam aspek yang harus diraih oleh seorang anak saat dirinya bersekolah. Ketiga aspek itu adalah:</p>
<p><strong>Pertama, aspek kognitif.</strong>  Aspek ini meliputi antara lain:</p>
<p>◊   Pengetahuan, yaitu kemampuan mengingat kembali hal-al yang telah dipelajari.</p>
<p>◊   Pemahaman, yaitu kemampuan menangkap makna atau arti sesuatu hal.</p>
<p>◊   Penerapan, yaitu kemampuan mempergunakan hal-hal yang telah dipelajari untuk menghadapi situasi-situasi baru.</p>
<p>◊   Analisis, yaitu kemampuan menjabarkan sesuatu menjadi bagain-bagian.</p>
<p>◊   Sintesis, yaitu kemampuan memadukan bagian-bagian menjadi keseluruhan yang berarti.</p>
<p><strong>Kedua, aspek afektif. </strong>Aspek ini meliputi antara lain:</p>
<p>◊   Kesadaran, yaitu kemampuan untuk ingin memerhatikan sesuatu hal.</p>
<p>◊   Partisipasi, yaitu kemampuan untuk turut serta terlibat dalam sesuatu hal.</p>
<p>◊   Penghayatan nilai, yaitu kemampuan untuk menerima nilai dan terikat kepadanya.</p>
<p>◊   Pengorganisasian nilai, yaitu kemampuan untuk memiliki system nilai dalam dirinya.</p>
<p>◊   Karakterisasi diri, yaitu kemampuan untuk memiliki pola hidup dimana system nilai yang terbentuk dalam diri individu mampu mengawasi tingkah laku individu yang bersangkutan.</p>
<p><strong>Ketiga, aspek psikomotorik</strong>. Aspek ini meliputi antara lain:</p>
<p>◊   Gerakan refleks, yaitu kemampuan melakukan tindakan-tindakan yang terjadi secara tidak sengaja dalam menjawab satu rangsangan.</p>
<p>◊   Gerakan sadar, yaitu kemampuan melakukan  pola-pola gerakan yang bersifat pembawaan dan terbentuk dari kombinasi gerakan-gerakan refleks.</p>
<p>◊   Kemampuan perseptual, yaitu kemampuan menerjemahkan peransang yang diterima melalui alat indra menjadi gerakan-gerakan yang tepat.</p>
<p>◊   Kemampuan jasmani, yaitu gerakan-gerakan dasar yang merupkan inti untuk mengembangkan gerakan-gerakan yang terlatih.</p>
<p>◊   Gerakan-gerakan terlatih, yaitu gerakan-gerakan yang canggih dengan tingkat efisiensi tertentu.</p>
<p>◊   Komunikasi nondiskursif, yaitu kemampuan melakukan komunikasi  dengan melalui isyarat gerak badan.</p>
<p>Secara singkat, tujuan langsung menyekolahkan anak adalah menciptakan perubahan kualitas kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor. Peningkatan kemampuan ketiga aspek itu pada gilirannya akan meningkatkan   taraf hidup sang anak sebagai individu. Dengan satu catatan, peningkatakn kualitas ketiga aspek itu mesti disesuaikan dengan tingkat perkembangan usia anak.</p>
<p><strong>Agar anak siap sekolah</strong></p>
<p>Apa yang harus dilakukan orangtua agar anak siap bersekolah? Menurut Arief Rachman, salah seorang pakar pendidikan yang juga kepala Pengembangan Pendidikan Labschool Jakarta, ada empat hal yang perlu diperhatikan, yaitu:</p>
<p>◊   Rencanakan jauh hari serta libatkan anak untuk lebih mengenal janjang pendidikannya.</p>
<p>◊   Bantu anak untuk menyiapkan dirinya menjadi lebih matang sehingga tidak mudah putus asa dan pesimistik.</p>
<p>◊   Tumbuhkan sikap mandiri dengan tidak mengumbar perlakuan istimewa terhadap anak.</p>
<p>◊   Perhitungkan masalah teknis, seperti masalah finansial secara matang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Prasekolah Anak Langit</p>
<p>Jl. Gunung Mas no. 22 C Perumahan LIPI</p>
<p>Ciumbuleuit &#8211; Bandung</p>
<p>022-76178080</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anaklangit.com/2012/05/11/tujuan-bersekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TAHAP PENDIDIKAN ANAK</title>
		<link>http://anaklangit.com/2012/05/11/tahap-pendidikan-anak/</link>
		<comments>http://anaklangit.com/2012/05/11/tahap-pendidikan-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 03:05:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wasmin al risyad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anaklangit.com/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[Pada jenjang yang paling rendah, secara  garis besar pendidikan anak saat ini dapat dibagi ke dalam dua jenjang. Pertama, pendidikan prasekolah dan kedua, pendidikan dasar. Pendidikan prasekolah mencakup pendidikan di tingkat playgroup dan taman kanak-kanak. Sedangkan pendidikan dasar merupakan pendidikan yang dimulai di bangku sekolah dasar hingga SLTP. Dulu, banyak orangtua di negeri ini yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada jenjang yang paling rendah, secara  garis besar pendidikan anak saat ini dapat dibagi ke dalam dua jenjang. Pertama, pendidikan prasekolah dan kedua, pendidikan dasar. Pendidikan prasekolah mencakup pendidikan di tingkat <em>playgroup </em>dan taman kanak-kanak. Sedangkan pendidikan dasar merupakan pendidikan yang dimulai di bangku sekolah dasar hingga SLTP.</p>
<p>Dulu, banyak orangtua di negeri ini yang langsung menyekolahkan putra-putrinya ke sekolah dasar. Mereka tidak memasukkan anak-anak mereka ke taman kanak-kanak lebih dahulu, apalagi <em>playgroup.</em> Sebelum memasukkan anak ke sekolah dasar, sebagian orangtua cukup mengajari anak mereka baca tulis dan berhitung ala kadarnya di rumah. Ini dimaksudkan agar anak memiliki sedikit bekal ketika mulai duduk  di bangku sekolah dasar.</p>
<p>Akan tetapi itu terjadi dulu. Sekarang zamannya sudah lain. Banyak orangtua semakin sibuk. Pada saat yang bersamaan, dengan modus bisnis salah satunya, lembaga-lembaga pendidikan prasekolah bermunculan menawarkan jasanya. Maka, semakin banyak saja orangtua yang mengirim anaknya untuk mengikuti pendidikan prasekolah sebelum sang anak masuk sekolah dasar.</p>
<p>Banyak orangtua berharap, dengan mengirim anak mereka ke lembaga pendidikan prasekolah maka sang anak akan jauh lebih siap untuk belajar disekolah dasar. Lebih dari itu, dengan mengikuti pendidikan  prasekolah diharapkan sang anak bisa mampu lebih cepat menguasai sejumlah kemampuan dasar seperti membaca, menulis dan berhitung. Banyak orangtua yang akan menjadi bangga jika anaknya yang berusia  tiga tahun jalan dan duduk di satu lembaga pendidikan prasekolah itu telah bisa lancar menghitung, membaca kata-kata serta mengucakan sejumlah kata dalam bahasa Inggris.</p>
<p><strong>Menjadi tokoh rekaan</strong></p>
<p>Bukan rahasia lagi, tidak sedikit orangtua zaman <em>kiwari</em> yang tidak bisa menerima kenyataan terkait dengan kondisi anak mereka. “Banyak orangtua menuntut bahwa di taman kanak-kanak mesti diajarkan berhitung dan membaca. Di sekolah dasar diajarkan bahasa Inggris. Orangtua memaksaanak sekolah dasar ikut bimbel (bimbingan belajar). Itu semua dilakukan agar anak menjadi juara yang dapat dibanggakan oleh orangtua. Anak dipaksa hidup pada tingkat intelektual tanbg terlalu tinggi. Anak dijadikan tokoh rekaan orangtua” (<strong>J Drost SJ, <em>Dari KBK sampai MBS</em></strong>).</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anaklangit.com/2012/05/11/tahap-pendidikan-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tahap Perkembangan Sosial Anak</title>
		<link>http://anaklangit.com/2012/05/03/tahap-perkembangan-sosial-anak/</link>
		<comments>http://anaklangit.com/2012/05/03/tahap-perkembangan-sosial-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 May 2012 07:55:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wasmin al risyad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[perkembangan sosial]]></category>
		<category><![CDATA[sosial anak usia dini]]></category>
		<category><![CDATA[tahap perkembangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anaklangit.com/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[John Bowlby memaparkan, interaksi sosial yang dibentuk anak dengan orang dewasa di sekitarnya melewati beberapa tingkatan, yang meliputi: Pertama, fase usia 0-3 bulan. Anak masih belum bisa membedakan wajah orang-orang yang dilihatnya. Meski demikian reaksi tertentu dari orang dewasa dapat diterima sebagai perlindungan dan perasaan dekat. Kedua, fase usia 3-6 bulan. Anak mulai mengenali pribadi-pribadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>John Bowlby memaparkan, interaksi sosial yang dibentuk anak de<a href="http://anaklangit.com/wp-content/uploads/2012/05/sosial.jpg"><img class="alignright  wp-image-153" title="sosial" src="http://anaklangit.com/wp-content/uploads/2012/05/sosial.jpg" alt="" width="260" height="260" /></a>ngan orang dewasa di sekitarnya melewati beberapa tingkatan, yang meliputi:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, fase usia 0-3 bulan. Anak masih belum bisa membedakan wajah orang-orang yang dilihatnya. Meski demikian reaksi tertentu dari orang dewasa dapat diterima sebagai perlindungan dan perasaan dekat.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> fase usia 3-6 bulan. Anak mulai mengenali pribadi-pribadi di dekatnya. Keterikatan dengan orang-orang di sekitarnya mulai terjalin.</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> fase usia 6 bulan &#8211; 3 tahun. Anak semakin mempertahankan interaksi dengan tokoh tertentu di lingkungan sekitarnya. Keterikatan ini tercermin dengan reaksi-reaksi anak seperti gembira, sedih, ataupun kecewa.</p>
<p><strong>Keempat</strong>, fase usia 3-5 tahun. Anak mulai mampu menjalin kerja sama dengan orang-orang terdekat di sekitarnya.</p>
<p>Selain sifat sosial seperti meniru, bersaing, keja sama, simpati dan perilaku akrab, anak-anak juga dapat mencuatkan sejumlah perilaku asosial. Perilaku asosial yang paling umum pada anak prasekolah antara lain berupa pembangkangan, agresif, perilaku sok berkuasa, mementingkan diri sendiri serta pertentangan jenis kelamin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anaklangit.com/2012/05/03/tahap-perkembangan-sosial-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tahap Perkembangan Kognitif Anak</title>
		<link>http://anaklangit.com/2012/05/03/tahap-perkembangan-kognitif-anak/</link>
		<comments>http://anaklangit.com/2012/05/03/tahap-perkembangan-kognitif-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 May 2012 07:41:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wasmin al risyad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anaklangit.com/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[Berdasarkan pandangan Jean Piaget, tahap perkembangan kognitif anak terdiri dari empat tahap, yang meliputi: 1. Tahap sensorimotorik (0-2 tahun). Pada tahap ini, anak belajar mengkoordinasi gerak-gerik fisiknya dengan bertumpu pada aspek motoriknya, sebelum ia mampu mengungkapkan gagasan lewat bahasa lisan. 2. Tahap Praoperasional (2-7 tahun). Pada tahap ini, anak sudah mampu mengungkapkan gagasan dan aktivitasnya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://anaklangit.com/wp-content/uploads/2012/05/kognitif.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-148" title="kognitif" src="http://anaklangit.com/wp-content/uploads/2012/05/kognitif-204x300.jpg" alt="" width="204" height="300" /></a>Berdasarkan pandangan Jean Piaget, tahap perkembangan kognitif anak terdiri dari empat tahap, yang meliputi:</p>
<p>1. Tahap sensorimotorik (0-2 tahun). Pada tahap ini, anak belajar mengkoordinasi gerak-gerik fisiknya dengan bertumpu pada aspek motoriknya, sebelum ia mampu mengungkapkan gagasan lewat bahasa lisan.</p>
<p>2. Tahap Praoperasional (2-7 tahun). Pada tahap ini, anak sudah mampu mengungkapkan gagasan dan aktivitasnya. Hanya saja, masih terbatas pada hal-hal yang konkret saja. Daya nalar dan logika anak belum berjalan secara utuh.</p>
<p>3. Tahap operasional konkret (7-11 tahun). Daya nalar serta logika anak mulai berjalan sebagai utuh, terutama yang terkait dengan hal-hal yang konkret.</p>
<p>4. Tahap Operasional formal (11 tahun hingga memasuki usia dewasa). Daya nalar dan logika anak sudah berjalan dengan benar-benar utuh. Anak sudah dapat berpikir secara abstrak dan sistematis sehingga memungkinkannya memikirkan hal-hal yang akan mungkin terjadi.</p>
<p>Ibarat &#8220;mobil sport&#8221;</p>
<p>Sejumlah pakar pendidikan anak menggambarkan anak-anak yang berusia 4-5 tahun ibarat sebuah &#8220;mobil sport&#8221;. Gerak perkembangan mereka lebih cepat dan lebih tangkas dibandingkan dengan usia sebelumnya. Karena itu mereka membutuhkan lebih banyak tempat dan kebebasan untuk menguji kemampuan dan keterampilan baru. Tugas orang dewasa adalah membantu mereka dalam usahanya menemukan pengetahuan-pengetahuan dan keterampilan-keterampilan tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anaklangit.com/2012/05/03/tahap-perkembangan-kognitif-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KEBUTUHAN PENDIDIKAN ANAK</title>
		<link>http://anaklangit.com/2012/05/03/kebutuhan-pendidikan-anak/</link>
		<comments>http://anaklangit.com/2012/05/03/kebutuhan-pendidikan-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 May 2012 07:16:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wasmin al risyad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[kebutuhan]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anaklangit.com/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[Mengenali Kebutuhan Pendidikan Anak Tahap perkembangan Proses Belajar Anak Tahap Perkembangan Kognitif Anak Tahap Perkembangan Sosial Anak Tahap Pendidikan Anak Tujuan Bersekolah Tujuan Pendidikan Prasekolah Harus lebih banyak Bermain di Prasekolah &#160;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ol>
<li><a title="Mengenali Kebutuhan Pendidikan Anak" href="http://anaklangit.com/2012/04/27/mengenali-kebutuhan-pendidikan-anak/">Mengenali Kebutuhan Pendidikan Anak</a></li>
<li><a title="Tahap Perkembangan Proses Belajar Anak" href="http://anaklangit.com/2012/05/03/tahap-perkembangan-proses-belajar-anak/">Tahap perkembangan Proses Belajar Anak</a></li>
<li><a title="Tahap Perkembangan Kognitif Anak" href="http://anaklangit.com/2012/05/03/tahap-perkembangan-kognitif-anak/">Tahap Perkembangan Kognitif Anak</a></li>
<li><a title="Tahap Perkembangan Sosial Anak" href="http://anaklangit.com/2012/05/03/tahap-perkembangan-sosial-anak/">Tahap Perkembangan Sosial Anak</a></li>
<li><a title="TAHAP PENDIDIKAN ANAK" href="http://anaklangit.com/2012/05/11/tahap-pendidikan-anak/">Tahap Pendidikan Anak</a></li>
<li><a title="Tujuan Bersekolah" href="http://anaklangit.com/2012/05/11/tujuan-bersekolah/">Tujuan Bersekolah</a></li>
<li><a title="Tujuan Pendidikan Prasekolah" href="http://anaklangit.com/2012/05/17/tujuan-pendidikan-prasekolah/">Tujuan Pendidikan Prasekolah</a></li>
<li><a title="Harus Lebih Banyak Bermain di Prasekolah" href="http://anaklangit.com/2012/05/17/harus-lebih-banyak-bermain-di-prasekolah/">Harus lebih banyak Bermain di Prasekolah</a></li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anaklangit.com/2012/05/03/kebutuhan-pendidikan-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tahap Perkembangan Proses Belajar Anak</title>
		<link>http://anaklangit.com/2012/05/03/tahap-perkembangan-proses-belajar-anak/</link>
		<comments>http://anaklangit.com/2012/05/03/tahap-perkembangan-proses-belajar-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 May 2012 07:08:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wasmin al risyad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[belajar anak]]></category>
		<category><![CDATA[perkembangan belajar]]></category>
		<category><![CDATA[proses belajar anak]]></category>
		<category><![CDATA[tahap perkembangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anaklangit.com/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[Menurut Robert Richardson Sears, perkembangan proses belajar anak terbagi menjadi tiga tahapan. Ketiga tahapan itu adalah: Pertama, tahap tingkah laku rudimenter. Aspek ini terkait dengan kebutuhan dasar dan proses belajar pada masa bayi. Ciri-cirinya antara lain: Pengalaman- pengalaman dari lingkungan sekitar belum secara terarah  mendorong proses belajar. Sifat egosentris lebih menonjol karena anak belum mengenal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://anaklangit.com/wp-content/uploads/2012/05/belajar.jpg"><img class="alignleft  wp-image-138" title="belajar" src="http://anaklangit.com/wp-content/uploads/2012/05/belajar-300x225.jpg" alt="anak langit" width="247" height="185" /></a>Menurut Robert Richardson Sears, perkembangan proses belajar anak terbagi menjadi tiga tahapan. Ketiga tahapan itu adalah:</p>
<p><strong>Pertama, tah</strong><strong>ap tingkah laku rudimenter</strong>. Aspek ini terkait dengan kebutuhan dasar dan proses belajar pada masa bayi. Ciri-cirinya antara lain:</p>
<ul>
<li>Pengalaman- pengalaman dari lingkungan sekitar belum secara terarah  mendorong proses belajar.</li>
<li>Sifat egosentris lebih menonjol karena anak belum mengenal lingkungan sekitar dengan baik.</li>
<li>Secara berangsur anak mulai merespon kehadiran orang-orang dekat di sekitarnya. Dalam tahap ini, figur ibu menjadi aktor sentral yang penting dalam menjembatani anak untuk mengenal lingkungan sekitarnya.</li>
</ul>
<p><strong>Kedua, tahap motivasi sekunder</strong>. 1. Pada tahap ini , proses belajar berpusat di dalam keluarga. Tahap motivasi sekunder pertama ini dimulai pada saat anak berusia 2,5 tahun hingga anak masuk sekolah dasar. Ciri-cirinya:</p>
<ul>
<li>Sosialisasi sudah mulai terjadi, baik secara verbal atau nonverbal.</li>
<li>Anak tidak sepenuhnya bergantung pada figur ibu. Secara berangsur anak mulai mampu memenuhi kebutuhan dan kehendaknya dari usaha mempelajari sesuatu.</li>
<li>Rasa frustasi mulai muncul tatkala anak menemui hambatan atau pembatasan.</li>
<li>Pada usia tiga tahunan, anak mulai mampu melakukan identifikasi, seperti menyadari adanya perbedaan jenis kelamin.</li>
</ul>
<p><strong>Ketiga, tahap motivasi sekunder kedua</strong>. Pada tahap ini proses belajar mulai terjadi di luar lingkungan keluarga. Ciri-cirinya:</p>
<ul>
<li>Anak siap menerima lingkungan di luar keluarganya. Misalnya tatkala anak mulai masuk ke sekolah.</li>
<li>Pribadi anak dipengaruhi oleh lingkungan di luar keluarganya, baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif.</li>
<li>Saat anak berusia 5 tahun, identifikasi tidak hanya melibatkan ibu atahu ayah, tetapi juga kawan sebaya.</li>
<li>Nilai-nilai pribadi anak akan semakin banyak didapat dari lingkungan sekitarnya.</li>
</ul>
<p><strong>Memahami Balita</strong></p>
<p>Pada rentang usia 2-5 tahun, seorang anak tumbuh dan berkembang secara  pesat. Menurut Mirna Adzania, penulis buku bertajuk <em>Merawat Balita itu Mudah,</em> perhatian dan antusiasme orangtua sangat penting dalam hal ini. Orangtua mesti memahami bahwa dalam usia balita, terdapat sejumlah kondisi yang menuntut kemampuan mereka untuk bertindak seimbang. Seimbang dalam artian bahwa orangtua tidak terlalu menekan tetapi juga tidak terlalu memanjakan anak.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anaklangit.com/2012/05/03/tahap-perkembangan-proses-belajar-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenali Kebutuhan Pendidikan Anak</title>
		<link>http://anaklangit.com/2012/04/27/mengenali-kebutuhan-pendidikan-anak/</link>
		<comments>http://anaklangit.com/2012/04/27/mengenali-kebutuhan-pendidikan-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Apr 2012 14:15:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wasmin al risyad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anaklangit.com/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[Tidak bisa dipungkiri, pendidikan merupakan aspek penting, bahkan mungkin maha penting, dalam menjadikan seorang anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Pendidikan yang baik diyakini banyak orang akan manjadi garansi dalam mewujudkan anak yang unggul dan pintar. Soal pentingnya pendidikan ini, tentu saja disadari sepenuhnya oleh setiap orangtua, juga oleh para calon orangtua. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://anaklangit.com/wp-content/uploads/2012/04/pendidikan-anak.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-127" title="pendidikan anak" src="http://anaklangit.com/wp-content/uploads/2012/04/pendidikan-anak-150x150.jpg" alt="pendidikan terbaik bagi anak" width="150" height="150" /></a>Tidak bisa dipungkiri, pendidikan merupakan aspek penting, bahkan mungkin maha penting, dalam menjadikan seorang anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Pendidikan yang baik diyakini banyak orang akan manjadi garansi dalam mewujudkan anak yang unggul dan pintar.</p>
<p>Soal pentingnya pendidikan ini, tentu saja disadari sepenuhnya oleh setiap orangtua, juga oleh para calon orangtua. Tidak ada satu orangtua pun yang mau anaknya mendapatkan pendidikan yang asal-asalan.  Semuanya, kalau bisa, pasti <em>kepengen</em> anaknya memperoleh pendidikan yang baik, bahkan terbaik, kalau bisa gratis lagi.</p>
<p>Persoalannya, pendidikan yang bagaimanakah yang bisa disebut sebagai pendidikan yang baik itu?</p>
<p>Para pakar pendidikan berpendapat, pendidikan yang dapat memenuhi kebutuhan para peserta didiknya. Dengan demikian, sebuah sistem pendidikan yang baik dijalankan oleh para pengelolanya dengan memerhatikan kebutuhan siswa didik. Dengan demikian pula, orangtua ketika memasukan anaknya ke sebuah lembaga pendidikan perlu memerhatikan faktor kebutuhan siswa didik ini.</p>
<p>Pertanyaan kemudian, apa saja kebutuhan siswa didik itu dan bagaimana kita dapat mengetahui dan mengenali kebutuhan tersebut?</p>
<p>Untuk mengetahui dan mengenali kebutuhan pendidikan anak, kita mesti lebih dahulu mengetahui sejumlah tahapan perkembangan anak sesuai dengan jenjang usianya. Dari situlah baru kita dapat merinci apa-apa saja yang dibutuhkan oleh seorang anak terkait dengan aspek pendidikan yang disesuaikan dengan jenjang usianya.</p>
<p><strong>Masih Belum Terdidik</strong></p>
<p>George Santayana, seorang penulis mahsur pernah menyatakan, <em>a child educated only at school is an educated child. </em> Maksudnya anak yang cuma diserahkan pendidikannya ke pihak sekolah pada dasarnya merupakan anak yang masih belum terdidik. Ini artinya, bahwa soal pendidikan anak tidak bisa cuma diserahkan kepada sekolah saja. Pihak rumah, dalam hal ini keluarga, bertanggung jawab pula terhadap pendidikan anak. Dengan demikian, pendidikan anak yang sempurna harus diperoleh dari dua sumber. Pertama, dari keluarga dan kedua dari sekolah. <strong><br />
</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>sumber: _____. 2006. 1001 tentang Sekolah: Panduan Orangtua Memilih Tempat Belajar yang Tepat. Bandung: Media Inc.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anaklangit.com/2012/04/27/mengenali-kebutuhan-pendidikan-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

